Mang Ucup

Cross Boys, Remaja Berandal Bandung Jaman Baheula by Mang Ucup posting melalui akun FB Danni Hamdani

http://www.balebandung.com/

foto: https://bandungvariety.wordpress.com/2008/03/12/geng-remaja-dalam-sejarah-kota-bandung/

Berkisah tentang pemberontakan kaum remaja terhadap budaya dan lingkungannya, salah satu film yang membawa pengaruh besar terhadap perilaku remaja di tahun 1955 adalah film Rebel Without a Cause yang diperankan oleh James Dean.

Berpegang pada moto “Keberanian hanya bisa diukur melalui perkelahian ataupun kebut-kebutan balapan motor/mobil” serta dipengaruhi kisah laga film James Dean, menjadi pemicu tumbuhnya geng-geng remaja, termasuk di Kota Bandung.

Mereka terdiri dari para remaja yang pada malam hari sering nongkrong di persimpangan (crossroads) sambil bernyanyi-nyanyi bareng dan bermain gitar. Golongan remaja inilah yang dikenal dengan sebutan “Cross Boys” (remaja di persimpangan jalan), yang diidentitaskan sebagai pemberani dan jagoan berkelahi.

Genk cross boys yang cukup dikenal sekitar tahun 1956 adalah “Tiger Mambo”. Kebanyakan anggotanya terdiri dari para remajaetnik Ambon “Indo-Belanda” yang biasa mangkal di sekitar Jalan Riau (Jalan L.L.R.E. Martadinata sekarang). Salah satu pentolannya adalah Bram maupun anggota keluarga Titawanu seperti Si Franz ataupun Ruddy (almarhum). Sedangkan Martin Tinawanu adalah mantan penyanyi dari Night Club “Aneka Plaza” (AP). Mereka semua sekarang sudah hijrah ke Belanda.

Genk Cross Boys lainnya adalah “The Mangga Boys”, suatu kelompok penggemar voli yang tinggal di Jalan Mangga, Bandung. Mereka menjadi juara putra dengan menggulingkan SDS II dengan skors 3-0. Fans (penggemar) The Manggo Boys men-support mereka dengan yel-yel “We Want to Manggo!”.

Pada saat itu juga ada sekelompok anak muda di sekitar Jalan Buah Batu seperti Atang Suherman, Daace, Jhon Syahrir (almarhum), Tosin (almarhum), Rudi (almarhum), dan Ahyad (almarhum), yang membentuk klub binaraga yang diberi nama Buahbatu Barbell Club (BBC), dan menjadi cikal bakal terbentuknya geng Buahbatu Boys Club (BBC) yang melegenda hingga sekarang.

Masa keemasan BBC adalah ketika dipimpin oleh generasi ketiga, yakni Kang Daman (R. Daman Hendarman). Di era ketokohan Daman ini pula muncul nama-nama dedengkot BBC lainnya seperti Tusye, Ade Memous (almarhum), Tonton (almarhum), Kenken, Pipit (almarhum), Uce Patrom, Kamar, Didin Kuntung, dan banyak nama lainnya yang kemudian membuat nama BBC menjadi kian disegani.

Ketika masa operasi PETRUS (Penembak Misterius) di masa Orde Baru, beberapa anggota BBC telah dibunuh, antara lain Tonton. Hal ini pula yang mengakibatkan Daman hengkang ke Belanda dan sekarang ia tinggal di Amsterdam. BBC kemudian berubah menjadi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dengan nama Buah Batu Corps (BBC) yang eksis hingga kini.

Pada masa berikutnya, di kawasan Jl. Cipaganti dan sekitarnya, ada pula geng remaja yang disegani, mereka dikenal dengan nama “Boxty“. Para anggotanya bukan sekadar pemberani, tetapi memiliki keterampilan tinju, karena mereka petinju-petinju amatir.

Memasuki periode 1970-an bermunculan pula geng-geng yang mengukuhkan diri sebagai jagoan-jagoan Bandung. Di kawasan Jl. Cikaso muncul geng “NC” (New Chicago) Kang Budiarto Soeparma adalah salah satu dari pendiri dan dedengkot yang membesarkan “NC” ini. Di Kawasan Cicadas memiliki geng “Dollars“. Namun demikian, tidak semua geng di Bandung mengidentifikasikan diri sebagai komunitas jagoan atau kekerasan.

Di kawasan Dago misalnya pernah ada geng “CD” (Corps Dago). Gank yang disebut “CD” ini dianggap pada waktu itu sebagai komunitas remaja elite yang mengukuhkan diri bukan sebagai jagoan, tetapi playboy, penggoda atau pemburu wanita.

Genk cross boys lainnya ada di Jalan Dulatip maupun di Jalan Kelenteng. Pada awalnya, Si Gobang di Kelenteng adalah jagoannya, setelah itu diambil alih oleh si Empit & Kim Ceng (Emeh).

Kegemparan “Cross Boys” yang paling menghebohkan terjadi pada tanggal 5 September 1955 di bioskop Rivoli yang pada saat itu sedang diputar film “A Song to Remember”. Seorang anggota Brimob yang berpakaian sipil merasa tidak senang dengan penampilan lima anak cross boys genk Jalan Progo. Brimob tersebut berkomentar, “Ah, ini koboi-koboi yang harus diberantas.” Hal inilah yang memicu keributan besar berkepanjangan, sehingga bukan hanya Brimob saja yang terlibat, tetapi para tukang becak juga turut merasa sewot terhadap ulahnya genk cross boys yang sering mengganggu mereka. (Sumber: Pikiran Rakjat – 10 September 1955).

Insiden ini telah membuat resah para kepala sekolah maupun aparat kepolisian. Dari situlah timbul gagasan untuk menyalurkan kenakalan anak-anak cross boys dengan membentuk Badan Keamanan Lalu Lintas (BKLL) yang dikelola Kepolisian Jawa Barat.

Tokoh selebritis dari Cross Boys Bandung sekarang ini antara lain The Rollies (Kang Gito almarhum), Giant Step (Kang Benny Subardja) dan Superkid (Kang Deddy Stanzah).

Para cross boys pada awalnya tidak melakukan tindakan kriminalitas. Cuma sekadar hobi berkelahi dan adu keberanian saja. Jadi tidak bisa disamakan dengan kaum preman. Hal itulah juga yang pernah diutarakan oleh seorang tokoh preman zaman sekarang, John Kei, dalam wawancaranya bahwa ia mengaku bukanlah seorang preman, melainkan seorang cross boys (jago berkelahi).

Kata preman itu sendiri diserap dari kata Vrijman. Ketika zaman kolonial, kata Vrijman itu bisa diartikan sebagai apparat keamanan yang bebas tanpa seragam. Atau orang yang tidak termasuk aparat pemerintah seperti Veldpolitie (Polisi Lapangan). Tugas Vrijman antara lain menjadi satpam dan tukang pukul para pemilik kebun. Istilah preman dengan konotasi kriminal baru muncul di akhir tahun 1970, yaitu dalam serial Ali Topan. Organisasi Preman yang dibentuk pada saat itu merekrut anggotanya dari mantan narapidana.

Di Bandung, orang biasanya menyebut kaum preman sebagai “okem”, kependekan dari prokem (bahasa gaul). Okem adalah preman kelas bawah yang biasa malak tukang parkir dan para pedagang kaki lima. Tokoh okem yang terkenal di Bandung sekarang ini adalah Armen dan Rachmat Hidayat. Sebutan lainnya untuk kaum preman adalah GALI atau singkatan dari Gabungan Anak Liar.

Seperti dalam lirik lagu “Anak Jalanan” – Chrisye almarhum, “Anak gedongan lambang metropolitan, menuntut hidup alam kedamaian. Anak gedongan korban kesibukan, hidup gelisah dalam keramaian”, cross boys selalu ada dan hidup sesuai dengan konteks zamannya.

by Mang Ucup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s